Tentukan Dulu: Satu PBX atau Banyak PBX?
- Penempatan PBX: di mana ekstensi, jalur telepon (trunk), antrian, dan jam kerja diatur.
- Koneksi antar lokasi: bagaimana panggilan dan lalu lintas telepon berpindah antar kantor.
Apa Itu Bridge?
- Setiap cabang punya admin sendiri.
- Setiap cabang punya jalur telepon (trunk) sendiri.
- Setiap cabang punya jam kerja, antrian, atau aturan panggilan yang berbeda.
- Anda ingin batas antar sistem tetap jelas, tetapi karyawan tetap bisa saling menelepon.
Yang perlu diingat: Bridge tidak menjadikan beberapa PBX menjadi satu sistem. Daftar kontak dan pengaturan tetap terpisah di masing-masing PBX. Status kehadiran (presence) juga tidak otomatis saling terlihat, ada pengaturan khusus yang perlu diaktifkan.
Apa Itu SBC?
Cocok dipakai jika:
- Anda ingin satu PBX saja untuk semua kantor.
- Ekstensi, trunk, antrian, dan kebijakan ingin dikelola dari satu tempat.
- Cabang cukup punya IP phone dan jaringan lokal (LAN), tanpa perlu PBX tersendiri.
Yang perlu diingat:
- SBC tidak membuat PBX baru di cabang, dan tidak menyalin pengaturan PBX.
- Perangkat atau komputer yang menjalankan SBC membutuhkan IP lokal yang tetap (static) dan harus selalu menyala selama telepon dipakai. Anggap SBC bagian dari jalur telepon, sama pentingnya dengan LAN, firewall, dan listrik.
- Untuk cabang yang sangat kecil, aplikasi 3CX atau telepon yang mendukung koneksi langsung bisa jadi pilihan yang lebih praktis daripada SBC.
Perbandingan Singkat
Bridge | SBC | |
Jumlah PBX | Banyak, masing-masing mandiri | Satu, terpusat |
Fungsi | Menghubungkan antar PBX | Menghubungkan telepon cabang ke PBX pusat |
Admin | Bisa terpisah per cabang | Terpusat |
Trunk | Bisa berbeda per cabang | Mengikuti PBX pusat |
Cocok untuk | Cabang yang butuh mandiri | Cabang yang ingin sederhana dan terpusat |
Aturan praktisnya: kalau tiap cabang butuh kendali sendiri, pilih Bridge. Kalau ingin pengelolaan terpusat, pilih SBC.
Rencanakan Penomoran dengan Rapi
Terlepas dari pilihan Anda, penomoran harus jelas. Ada dua pendekatan umum:
- Berbasis prefix: pengguna menekan kode cabang lalu nomor ekstensi. Misalnya, awalan 2 untuk Surabaya, lalu diikuti ekstensi tujuan.
- Berbasis rentang ekstensi: setiap kantor memiliki rentang nomor sendiri, misalnya cabang A memakai 1xx dan cabang B memakai 2xx.
Apa pun pilihannya, aturan panggilan keluar (outbound rule) harus sejalan dengan rencana tersebut. Rencanakan penomoran sebelum pengguna mulai memakainya.
Checklist Sebelum Implementasi
Pastikan hal-hal berikut sudah jelas:
- [ ] Model PBX: sudah diputuskan, terpisah (Bridge) atau terpusat (SBC).
- [ ] Penomoran: setiap kantor punya prefix atau rentang ekstensi yang terdokumentasi.
- [ ] Nama domain (FQDN): dipakai secara konsisten, bukan alamat IP. Untuk PBX yang dipasang di kantor sendiri (on-premise), pertimbangkan split DNS.
- [ ] Firewall: aturan di setiap lokasi sudah ditinjau. Gunakan fitur Firewall Checker dari 3CX, dan nonaktifkan SIP ALG di router.
- [ ] Penanggung jawab: jelas siapa yang mengelola setiap PBX, Bridge, SBC, jalur trunk, dan perubahan penomoran.
- [ ] Pengujian: sudah diuji dari sisi pengguna.
Apa yang Perlu Diuji?
Jangan hanya mengetes satu panggilan. Coba juga:
- Telepon antar cabang dan telepon masuk/keluar
- Telepon meja (desk phone), aplikasi mobile, aplikasi desktop, dan Web Client
- Notifikasi push
- Antrian, transfer panggilan, dan IVR
- Prosedur panggilan darurat
- Rekaman panggilan dan integrasi
- Status kehadiran (presence) antar lokasi
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Memakai Bridge padahal butuh ekstensi terpusat. Akibatnya, admin harus mengelola banyak PBX tanpa perlu.
- Memakai SBC padahal cabang butuh PBX dan trunk sendiri. SBC tidak bisa menggantikan PBX lokal.
- Penomoran tiap cabang berbeda aturan. Pengguna bingung dan salah sambung.
- Memakai alamat IP, bukan FQDN. Rentan bermasalah saat ada perubahan jaringan.
- Melewatkan split DNS pada instalasi on-premise.
- Mengira panggilan antar cabang otomatis membuat direktori dan presence bersama. Ini harus diatur terpisah.
Pegangan utamanya: pikirkan siapa yang bertanggung jawab atas panggilan tersebut, lalu pilih arsitekturnya.
Kesimpulan
- Bridge = tiap kantor punya PBX sendiri, lalu dihubungkan.
- SBC = satu PBX untuk semua, telepon cabang dihubungkan ke pusat.
- Tentukan model PBX dulu, baru pilih penghubungnya.
- Siapkan penomoran, DNS, dan firewall sejak awal, lalu uji dari sisi pengguna.
- Pastikan setiap komponen punya penanggung jawab dan prosedur pengujian.
Kalau desainnya sulit dijelaskan, misalnya “bagaimana user di cabang A menghubungi extension di cabang B?”, berarti rancangannya belum selesai.
Butuh Bantuan Merancang Telepon Multi-Cabang?
Tim kami siap membantu menentukan arsitektur 3CX yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda, mulai dari konsultasi, instalasi, hingga pengujian. Hubungi kami di solusipbx.com.



